Sultanking adalah tren baru yang menghebohkan media sosial. Istilah ini berasal dari kata “sultan” yang berarti penguasa atau pemimpin dalam bahasa Arab. Dalam konteks media sosial, sultanking mengacu pada tindakan menampilkan gaya hidup mewah, pembelian mewah, dan pengalaman mewah secara online. Pengguna media sosial memanfaatkan tren ini sebagai cara untuk memamerkan kekayaan, status, dan kesuksesan mereka kepada pengikutnya.
Seni menjadi sultan melibatkan pemilihan feed yang berisi gambar pakaian desainer, liburan eksotis, mobil mewah, dan pesta mewah dengan cermat. Postingan ini dimaksudkan untuk menyampaikan kesan kemewahan dan kemewahan, serta membuat pengguna tampil sebagai individu kaya dan berpengaruh. Tren ini mendapatkan popularitas di platform seperti Instagram, di mana pengguna dapat dengan mudah berbagi foto dan video gaya hidup mewah mereka dengan khalayak luas.
Salah satu aspek kunci dari sultanking adalah penggunaan hashtag dan caption untuk lebih meningkatkan citra kemewahan. Pengguna sering menggunakan hashtag seperti #luxurylifestyle, #blessed, dan #livingmybestlife untuk menyampaikan rasa kaya dan sukses. Teks juga dibuat dengan cermat untuk menonjolkan aspek kemewahan kehidupan pengguna, seperti bersantap di restoran berbintang Michelin, menginap di hotel bintang lima, dan berbelanja di butik desainer.
Beberapa pengguna media sosial telah membawa sultan ke tingkat berikutnya dengan berkolaborasi dengan merek-merek mewah dan mempromosikan produk mereka di postingan mereka. Influencer ini sering kali dibayar untuk memamerkan produk atau layanan suatu merek, dan sebagai imbalannya, mereka menerima barang gratis, sponsor, dan fasilitas lainnya. Hal ini menyebabkan peningkatan jumlah influencer media sosial yang mampu mencari nafkah dengan menjadi sultan dan mempromosikan merek-merek mewah kepada pengikutnya.
Walaupun kesultanan tampak seperti tren yang tidak berbahaya, namun hal ini juga memicu kontroversi dan kritik. Beberapa orang berpendapat bahwa tren ini mendorong materialisme, kedangkalan, dan budaya berlebihan. Kritikus menunjukkan bahwa sultanking dapat menciptakan ekspektasi yang tidak realistis dan menimbulkan perasaan tidak mampu dan iri hati di kalangan pengguna media sosial yang tidak mampu mendapatkan kemewahan yang sama.
Meski mendapat kritik, raja sultan terus menjadi tren populer di media sosial, dengan banyak pengguna yang memanfaatkan kesempatan untuk memamerkan kekayaan dan kesuksesan mereka secara online. Selama masih ada permintaan akan konten yang mengedepankan kemewahan dan kemewahan, sulutan kemungkinan akan tetap menjadi tren utama di dunia media sosial. Pada akhirnya, seni kesultanan merupakan cerminan ketertarikan masyarakat kita terhadap kekayaan dan status, serta keinginan untuk menampilkan gaya hidup glamor dan boros kepada dunia.